Mewaspadai munculnya gempa kategori “megathrust” yang mengancam Padang.
Senin, 25-10-2010
Sekitar
selang 2 (dua) minggu saja dari wanti-wanti Tim 9 kemungkinan ancaman
bencana qempa bumi berkategori “megathrust” yang berpotensi mengahantam
kawasan Padang, Mentawai, dan pesisir Sumatera Barat hari Minggu tgl 24
Okt kemarin dari lokasi yang cukup berdekatan yakni lepas pantai arah
Barat propinsi Sumatera Utara dan Aceh terekam terjadinya gempa berskala
5,0 SR dari kedalaman 29 km.
Kalangan ahli gempa dan tsunami tanah air yang terhimpun dalam Tim 9
pada kunjungan bersama Staf Khusus Kepresidenan RI di Padang tgl 10
Oktober yl dalam paparan kajian simulasi ancaman gempa di atas
mengungkapakan besaran skala qempa yang dapat terjadi dan berpusat di
kawasan seputar wilayah pulau Siberut dan Mentawai sebesar hingga 8,9
SR. Gempa berskala sebesar ini disebutkan Ahli Kegempaan LIPI Dr. Danny
Hilman Natawidjaja tergolong kategori “megathrust” dengan daya
kerusakkan bencana yang amat dahsyat dan dalam prakiraannya kemungkinan
terjadi memang sudah diambang pintu.
Gempa dahsyat ini akan berlanjut gelombang tsunami dalam jangka waktu
-/+ 2,5 jam menghampiri pesisir Padang dengan ketinggian gelombang
hingga setinggi 6 meter yang bakal menyapu sejauh hingga 2 kilometer
memasuki wilayah kota Padang yang berpenduduk sejumlah -/+ 1 juta jiwa
dan berpotensi merenggut korban hingga sebanyak 150.000 orang.
Dan dengan sekilas saja menyimak paparan data di atas mau tidak mau
setiap orang Indonesia langsung teringat akan kejadian mega bencana
tsunami Aceh yang terjadi tgl 26 Desember 2004 yang silam; yang berawal
dari gempa bumi dahsyat berskala 9,1 SR diikuti gelombang tusnami yang
melanda kawasan pantai di NAD Nangroe Aceh Darussalam dan mengakibatkan
korban hingga 300.000 jiwa lebih yang terenggut maut.
Apabila khalayak berkesempatan untuk dapat cukup mengingat-ingat kembali
bencana gempa yang melanda Padang nyaris persis sekitar setahun
berselang (30 Sep 2009), maka seluruh warga masyarakat di tanah air
merasakan duka atas cukup tingginya jatuhnya korban jiwa (1.000 orang
lebih) akibat gempa berskala 7,6 SR yang berpusat di tepian pantai
Sumatera namun tidak menimbulkan bencana tsunami. Kajian sejumlah ahli
dibalik kejadian gempa tersebut menyebutkan bahwa gempa yang menghantam
kota Padang tersebut berasal bukan dari lokasi pusat gempa di wilayah
pulau Siberut dan Mentawai hingga merupakan gempa yang berlainan dari
ancaman gempa berskala “megathrust” yang wajib diwaspadai dan
diantisipasi kemunculannya !
Apabila mengingat pasca kejadian mega bencana tsunami Aceh 2004
sebenarnya sejumlah ilmuwan ahli gempa Internasional pun sempat
membeberkan sejumlah prognosis gempa berskala besar yang berpotensi
terjadi di garis patahan tumbukan lempeng tektonik Indo-Australia dengan
lempeng Eurasia yang berderetan sejajar di lepas garis pantai daratan
pulau Sumatera yang antara lain meliputi wilayah kawasan pulau Siberut
dan Mentawai menerus ke arah Barat Laut melalui kawasan lepas pantai
Aceh, hingga ke kepulauan Andaman di Samudera Hindia. Adanya
keseimbangan gaya akibat perlepasan energi antara tumbukan kedua lempeng
tektonik dan data sejarah kegempaan khususnya yang berpusat di Siberut
dan Mentawai mengindikasikan potensi bakal munculnya gempa dahsyat
akibat energi yang tersimpan dan belum terlepas hingga saat ini. Gempa
dahsyat berskala 8.7 SR terjadi di kawasan ini pada tahun 1797.
Diimbuhi teori efek domino dan cascade atau efek berantai
terjadinya gempa yang muncul beruntun demi mencapai keseimbangan energi
pada patahan di lokasi terjadinya regangan stress akibat tumbukan pelat
tektonik, maka kalangan para ahli berkeyakinan periode kemunculan gempa
dahsyat dipandang tengah mulai memasuki masa kritis untuk muncul terjadi
kembali.
Salah satu prognosis ilmiah pernah dipaparkan ilmuwan Prof. John Mc
Closkey, dari insitusi The Environmental Sciences Research - Universitas
Ulster, Irlandia Utara yang dengan cukup tepat memprakirakan kejadian
gempa berskala 8,5 SR yang melanda Mentawai Maret 2005, yang
diperingatkannya bakal terjadi diantaranya berhubung semacam efek-domino
diatas sebagai dampak lanjutan gempa berikut bencana tsunami Aceh
sekitar setahun sebelumnya.
Sementara ilmuwan AS asal California Institute of Technology (Caltech)
Dr. Kerry Sieh yang sebelumnya telah selama hampir 20 tahun melaksanakan
penelitian intens kegempaan di kawasan Mentawai bersama dengan ilmuwan
LIPI Dr. Danny Hilman sampai pada prakiraan betapa gempa dahsyat yang
bakal melanda Padang walau waktu kejadiannya mustahil untuk dinyatakan
dengan rinci dan tepat kapan waktunya, namun diyakininya bakal terjadi
dalam lingkup hitungan generasi yang hidup pada masa kini yakni dalam
kisaran waktu -/+ 30 tahun sekarang; atau diurai dalam penjelasannya ;
“...kemungkinan terjadi kalau tidak Anda sendiri yang mengalaminya, atau
pun kalau tidak demikian maka apabila Anda adalah seorang ayah yang
memiliki seorang anak maka kejadiannya bakal dialami dalam kehidupan
anak Anda” !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar